erika

Berbuah Manis! Ini Kisah ‘Sabar’ Erika Meraih Program Ausbildung Jerman

Erika Marsyalina, panggil saja Erika pemilik akun instagram yang bernama @erikamarsyalina. Erika berasal dari Tangerang, Provinsi Banten,  Indonesia. Erika adalah seorang yang berhasil meraih program Ausbildung di SGN Mönchengladbach, Jerman dengan Jurusan Pflegefachfrau.

Bermula Dari Proses Sabar, Kunci Menuju Ausbildung Jerman 

Erika Marsyalina, perempuan berumur 25 tahun ini sedang melanjutkan pendidikannya di Jerman melalui program Ausbildung dengan jurusan Pflegefachfrau. Sebelum mengikuti program Ausbildung di Jerman, ia adalah siswi dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Candra Naya jurusan Farmasi di Jakarta Barat, Indonesia. Setelah lulus dari pendidikan SMK, ia mengalami kesulitan karena keadaan Ekonomi keluarga  yang tidak mencukupi dan ia pun harus menunda untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga membuat dirinya harus bekerja terlebih dahulu di sebuah Apotek swasta di Jakarta, Indonesia selama 3 tahun. 

Setelah sekian lamanya menunggu kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya, akhirnya ia mendapatkan informasi tentang Ausbildung di Jerman dari Media Sosial. Selama dirinya mencari Informasi tersebut, ia menemukan informasi program-program lainnya untuk bisa ke Jerman dan menemukan satu program (Program Au-Pair) dengan situasi dan kondisinya bisa digapai dengan realistis. Program Au-pair ini jadi salah satu batu loncatan dirinya untuk bisa Ausbildung ke Jerman, karena di program ini tidak mengharuskan biaya yang besar serta level bahasa Jerman yang tinggi. Namun sulitnya di Program ini, ia harus mengurus sendiri semua hal dari pencarian keluarga sampai dokumen-dokumen yang dibutuhkan.

Pada waktu itu, ia sempat mengalami drop, untuk jalan keluar dari ujian tersebut, selain minum obat serta Medical Check-Up tiap bulannya, ia juga mulai mencari Host Family di Jerman dan belajar bahasa Jerman secara otodidak. Karena baginya harus memiliki Sertifikat Bahasa Jerman dari Goethe Institut untuk salah satu persyaratan Au-pair ke Jerman. Namun perkembangan bahasa Jermannya tidak meningkat dari belajar otodidak, sehingga setelah kesehatannya membaik, ia mengikuti kursus bahasa Jerman di Depok. Selain membutuhkan kebutuhan Sertifikat bahasa Jerman, ia juga harus membuat Paspor serta mentranslate Ijazah Sekolahnya ke Bahasa Jerman, dari hal ini ia merasa sedikit kesulitan dalam mentranslate Ijazah sekolah, karena dirinya harus menghubungi Penerjemah Tersumpah dan membayar lumayan mahal untuk mentranslate Ijazah.

Setelah semua dokumen yang dibutuhkan sudah lengkap, kemudian ia mengajukan Visa untuk ke Jerman. Baginya persiapan ini lumayan menguras tenaga, waktu, biaya dan pikiran. Erika mendaftar Ausbildung setelah dirinya sudah di Jerman, namun walaupun mendaftar ketika sudah di Jerman, ada banyak tahapan-tahapan yang tidak mudah yang harus dilaluinya, seperti:

  1. Tahap bewerbung (Mengirim lamaran). Karena Ausbildung itu Program pelatihan kerja dan sekolah jadi ia harus mengirim lamaran ke banyak sekolah dan perusahaan yang dimana tidak sedikit dokumen-dokumen lamarannya ditolak.
  2. Tahap bewerbungsgespräch (Interview). Ia juga harus melakukan Interview di Sekolah dan tempatnya nanti melakukan pelatihan kerja. Pada tahap ini pun ia juga lumayan banyak mendapatkan penolakan.
  3. Tahap Visum beantragen (Pengajuan Visa). Setelah ia mendapatkan Vertrag (Kontrak kerja) Ausbildung dari Sekolah dan Perusahaan, akhirnya ia mengirimkan Vertrag tersebut beserta Sertifikat Bahasa Jerman B2 ke Ausländerbehörde.

Kemudian, setelah pengajuan Visa Ausbildung disetujui oleh pihak Ausländerbehörde, akhirnya ia bisa memulai Ausbildung pada Oktober 2021 yang seharusnya ia memulai Ausbildung pada April 2021, namun pihak perusahaan sebelumnya menarik kembali Vertrag yang mereka kirim, sehingga membuat dirinya harus mencari perusahaan lain untuk melakukan Ausbildung ini. 

erika

Kehidupan Erika di Jerman

Pertama kali dirinya tiba di Jerman, ia mengalami culture shock. Dimana makanan, gaya hidup dan sifat orang-orang Jerman yang sangat berbanding terbalik dengan Indonesia. Dirinya merasakan harus dengan terpaksa makan roti 3 kali sehari dan harus terbiasa dengan cuaca di Jerman yang pada saat ia datang, sedang berada di musim semi, dimana temperatur selalu dibawah 15°C. Kegiatannya saat ini, selain datang ke Sekolah dan tempat kerja, berbelanja kebutuhan hidup, bertemu dengan teman-teman dengan jadwal yang telah disepakati, (Membuat jadwal temu di Jerman cukup sulit, tidak bisa datang secara tiba-tiba ataupun tiba-tiba menelpon orang tanpa alasan kepentingan yang jelas). Menurutnya, “Aku juga mengisi waktuku dengan melakukan berbagai macam hobi yang dulu ketika aku di Indonesia tidak dapat aku lakukan karena terkendala biaya dan waktu. Terkadang jika aku rindu dengan suasana atau makanan Indonesia, aku akan bertemu dengan teman-teman Indonesia (yang pastinya tidak terlalu sulit untuk membuat janji temu) dan kita memasak makanan khas Indonesia bersama atau hangout ke Restaurant Indonesia yang ada di Jerman”.

Baginya, di Jerman untuk mencari teman atau pelajar Indonesia sangat mudah karena hampir setiap kota di sini ada Group Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman (PPI Jerman) dan Facebook Group seperti AFA Germany, Masyarakat Indonesia di Jerman, dan sebagainya. Jadi dengan begitu dirinya tidak merasa sendirian selama di Jerman. Bukan hal ini saja, ia juga merasakan hal yang sangat struggle ketika dirinya di Jerman, kendala utama yang dihadapi selama mengikuti program Ausbildung, ia merasa bahasa Jerman yang dimilikinya masih belum sempurna, jadi tidak jarang dirinya merasa frustasi karena tidak bisa mengungkapkan pendapat dan pikirannya saat di kelas dan di tempat kerja. Pada waktu itu juga, ia masih belum terbiasa dengan sistem pembelajaran di Jerman dimana selama program Ausbildung harus bisa membagi waktu saat Unterricht Blok (Sekolah) dan Praxis Blok (Praktek di tempat kerja).

Saat Unterricht Blok, ia merasa bisa mudah membagi waktunya karena jam sekolah yang teratur. Namun saat Praxis Blok, ia merasa sedikit kesulitan mengatur waktu karena dengan sistem Frühdienst-Spätdienst yang tidak teratur. Di hari kerja pun, tidak teratur masalah hari kerjanya, namun memang hal itu yang membuatnya tidak enak jika mengambil program Ausbildung jurusan Pflegefacefrau (Perawat), tetapi setelah lulus di program Ausbildung, ia akan mendapatkan pilihan untuk memilih jurusan spesialisasi yang diinginkan. Selain hal itu, ia merasa masih kesulitan untuk mengikuti ujian sekolah di Jerman, karena model soal yang kebanyakan Essay dan Fallbeispiel (Contoh kasus), membuat dirinya harus bekerja 2 kali yaitu memecahkan masalah dan menjelaskan serta menulis jawaban dengan bahasa Jerman yang tepat di lembar jawaban.

erika

Motivasi Erika Untuk Terus ‘Berjuang’ di Jerman

Sejak ia kecil, ia merasa iri melihat Tantenya yang selalu bepergian keluar negeri untuk melakukan pekerjaannya dan selalu membawakan oleh-oleh dari Negara yang dia kunjungi yang membuat dirinya bercita-cita dan termotivasi bahwa ia harus mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dan ingin seperti Tantenya. Ia merasa ingin menjelajahi dunia dan ingin merasakan langsung bagaimana kehidupan di negara lain. Selama dirinya studi di Sekolah Menuju Kejuruan (SMK), ia selalu mencari informasi Universitas ataupun Lembaga yang bisa memberi Beasiswa Full Cover untuk kuliah di luar negeri, dimanapun negaranya yang penting di luar negeri. Ia mendaftar banyak macam Beasiswa di berbagai macam Universitas ataupun Lembaga, namun selalu gagal dan selalu tidak berhasil dalam seleksi dokumen. Karena selalu mendapatkan penolakan dan ia sempat berhenti bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan memilih untuk bekerja sambil mengumpulkan uang untuk biaya kuliah di Indonesia.

Pada saat itu, Erika bekerja tanpa henti dan bahkan dirinya memiliki lebih dari satu pekerjaan pada saat itu yang membuatnya kurang beristirahat dan membuat daya tahan tubuhnya lemah sehingga ia terkena penyakit Tuberculosis yang mengharuskan dirinya berhenti dari tempat kerja dan mengharuskan untuk beristirahat total selama 6 bulan lebih. Selama masa sakit, ia selalu memikirkan kembali cita-cita serta impiannya dan ia berpikir bahwa ia tidak akan dapat bertahan hidup lebih lama lagi karena penyakit yang diidap. Pada saat moodnya benar-benar down dan ia merasa ingin menyerah, dan kemudian akhirnya ia mendapatkan informasi tentang program Ausbildung Jerman di media sosial, yang membuat dirinya bersemangat kembali untuk sembuh dengan rutin meminum obat dan ia pun bertekad untuk mengikuti program tersebut untuk mewujudkan impian-impiannya.

Akhir dari Perjalanan, Mempercayai Proses Yang Berhasil ‘Diwujudkan’

Pesan dari Erika “untuk kamu yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan di luar negeri, sesulit apapun masalah dan sebanyak apapun kendala yang kamu hadapi asalkan kamu percaya pada diri kamu sendiri bahwa kamu bisa mewujudkannya, kamu pasti bisa. Karena jika kamu bisa untuk memimpikannya, kamu pasti bisa mewujudkannya asalkan kamu percaya dan pantang menyerah untuk selalu mencari informasi”. Baginya setiap orang memang memiliki perjalanan serta momennya tersendiri, namun jika tidak memulainya dari sekarang, jika tidak berani untuk mengambil langkah pada saat ini juga, itu semua akan menunda momennya akan terasa lebih lama lagi.

Mediamaz Scholar

Apa Yang Bisa Meddy Bantu?

Untuk teman-teman semua, mulai sekarang bangun dan berdiri untuk mencoba berinisiatif dalam mencari informasi. Karena jika bukan diri kita sendiri siapa lagi. Sekarang ini, semuanya sudah sangat mudah berkat media informasi. Salah satu contohnya adalah Mediamaz Scholar yang menyajikan informasi beasiswa terkini untuk kamu yang bertekad seperti Erika yang berkesempatan studi di luar negeri, dan untuk semuanya yang ingin bertanya lebih lanjut tentang Aupair, FSJ, Ausbildung atau kehidupan Erika, serta langkah-langkahnya sampai tiba di Jerman, teman-teman bisa bertanya langsung lewat Instagram @erikamarsyalina. Cek terus informasinya di website ini dan akun Instagram Mediamaz Scholar yaa. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top