Studi-di-Universitas Al Azhar

Terharu, Begini Kisah Busay Meraih S1 Di Universitas Al Azhar Kairo!

Busainatul Munawaroh yang akrab dengan panggilan Busay. Busay berasal dari Madura, Indonesia. Busay adalah seorang mahasiswa yang melanjutkan studinya di  Al Azhar University Mesir dengan Jurusan Syariah Islamiyah.

Perjalanan Panjang ke Al Azhar Mesir

Busainatul Munawaroh atau busay, saat ini ia berusia 22 tahun. Busay lebih cenderung sebagai anak yang penakut, terutama dengan orang asing atau orang yang belum ia kenal sebelumnya. Akan tetapi, saat ini ia adalah seorang yang berhasil meraih pendidikannya di salah satu Universitas terkenal di Mesir, yaitu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

1. Latar Belakang Pendidikan

Pada waktu itu, setelah ia menempuh sekolah Dasarnya (SD) ia memilih untuk melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Putri Walisongo, Jombang, Indonesia, selama 6 bulan pendidikan. Perjalan studi selama 6 bulan ini, ia sudah bisa mengenal pelajaran Nahwu dan Shorof. Saat ia memasuki kelas 7 semester 2, ia memilih untuk pindah ke Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, di daerah Jakarta Barat, Indonesia. Baginya, setelah ia pindah pendidikannya, ia merasa mulai mengenal keberanian dan percaya diri dan dari sini ia mulai berani merancang impiannya untuk merasakan kependudukannya di Mesir.

Busay ingin melanjutkan pendidikan diluar negeri, karena menurutnya, “kuliah di Indonesia tidak luput dari presentasi, kkn, dan skripsi. Untuk si penakut ini, semua itu adalah mimpi buruk. Tapi aku sadar, aku adalah anak pertama dan cucu pertama. Harapan besar keluargaku ada di Pundakku dan tak mungkin aku mencontohkan adik-adikku dengan tidak lanjut kuliah. Lalu, kenapa Mesir? Sejak aku kecil, abah dan kakekku suka berandai-andai bahwa anak-anaknya akan belajar di Mesir, Yaman, dan Madinah.

Pada tahun 2018 ia berhasil lulus pendidikannya pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Setelah selesai pendidikan SMA nya, ia mulai memperjuangkan pendidikannya di Mesir. Pada waktu itu, ia memulai mencobanya dengan mengikuti tes seleksi jalur KEMENAG.

Bukan hanya itu saja, ia juga mendaftar beasiswa jalur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akan tetapi pada tahun 2018 ini, ia masih dikatakan belum beruntung untuk meraih impiannya. Setelah kegagalan pertama yang ia alami, ia tidak berpikir menyerah dalam meraih impiannya. Pada tahun 2019, ia mencoba bangkit dan mengikuti tes seleksi, dan ia juga berinisiatif untuk memperdalam kemampuan bahasanya di Kampung Inggris, Pare, Indonesia selama 5 bulan, dan ia juga mengikuti bimbingan persiapan tes Timur Tengah di mediator REHLATA. 

2. Seleksi ke Universitas Al Azhar Mesir

Pada juni 2019, sekian lamanya ia kembali melanjutkan perjuangannya mengikuti beberapa Tes, yaitu melalui jalur Kemenag, Program Beasiswa Santri Berprestasi-Luar Negeri (PBSB-LN) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam menjalankan perjalanan ini, ia menaruh harapan besar di jalur tes Kemenag, karena adanya kuota beasiswa dan non-beasiswa yang cukup banyak dan selama masa tes ia juga merasakan bisa menjawab  pertanyaannya dengan sangat baik, sehingga membuat dirinya yakin akan lolos di seleksi kali ini.

Setelah beberapa minggu kemudian, seleksi jalur Kemenag dan PBSB mengumumkan hasil tes seleksinya. Akan tetapi, pada saat itu ia merasa gagal, karena tidak ada namanya dalam hasil pengumuman tes seleksi tersebut. Ia merasa memiliki kegagalan yang besar, ia pun merasa tidak memiliki harapan pada hasil tes seleksi lainnya, yaitu pada jalur seleksi PBNU. Ternyata pikiran buruk yang ia pikiran, menjadi sebuah jawaban yang baik. Pada malam hari sebelum ia mengetahui keberhasilannya, ia tidak pernah lepas dari amalan sholawatnya.

Setelah ia melakukan amalannya, ia memikir nasibnya dengan bersantai bersama orang tuanya. Tepat setelah itu, tidak lama kemudian, ia mendapatkan pesan online (WhatsApp) dari teman-temannya yang berada di Mesir. Pesan yang didapatkan pada waktu itu ialah,  berupa pesan ucapan akan kelulusannya. Pada saat itu ia merasa bingung dan kaget, karena beasiswa PBNU yang sudah ia buang jauh dari harapannya kini tergenggam. Menurutnya, “mengingat peristiwa itu air mataku tidak pernah bisa terbendung. Haru, Bahagia, dan bingung bercampur jadi satu”.

Setelah ia mendapatkan kabar baik, dalam beberapa hari kemudian ia mendapatkan kabar tentang hasil seleksi Yaman, dan Turki. Dari hasil kabar tersebut, mendapatkan kabar yang sangat baik, ia berhasil lolos dalam pencapain seleksinya tersebut. Menurutnya, “Hampir dua tahun ikut tes sana-sini dan tertolak, sekalinya lulus seleksi langsung 3 negara”. Dengan begitu, ia percaya dengan adanya skenario Pencipta-Nya yang memang tidak ada untuk bisa ditandingkan.

3. Kutipan Favorit

Pada keberhasilan itu, juga teringat kutipan dari Henry David Thoreau, yaitu “It’s like butterfly“. The more you chase it, the more it will elude you. “But if you turn your attention to other things, it will come, and sit softly on your shoulder”. Kutipan ini mengartikan bahwa, “Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu, semakin kamu mengejarnya, semakin ia akan menghindari kamu, tetapi jika kamu memperhatikan hal-hal lain di sekitar kamu, maka ia akan dengan lembut datang dan duduk di bahumu”.

 

Perjalanan-Studi-di-Universitas Al Azhar

4. Motivasi Kuliah ke Al Azhar Mesir

Yang menjadi motivasi Busay pada saat menjalankan perjalan panjang impiannya, ia sangat bersyukur terhadap kedua orang tuanya yang selalu memberi support terhadap dirinya. Ia juga merasa banyak orang-orang yang di sekelilingnya menjadi motivasi dia untuk tetap menjalankan impian tingginya. Bukan hanya itu saja, sebelum ia mendapatkan keberhasilannya, ia terpikir dalam benaknya, ada suatu kalimat yang pernah ia dengar “Kalau gagal berarti hanya belum, tapi kalau menyerah artinya udahan”.

Dari pemikiran itu ia mulai bangkit dan membatalkan niatnya untuk menyerah, ia juga ingat akan hal sesuatu, bahwa setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing. Pada waktu itu ia juga mencoba berpikir baik, mungkin jalan terbaik impiannya bukan di Mesir saja, dan sampai pada akhirnya ia mulai mencoba untuk mengikuti tes seleksi di negara lain yaitu, Yaman dan juga Turki. Dengan keyakinan penuh, dan keberaniannya untuk mencoba. Ternyata ada hasil yang memuaskan yang ia dapatkan.

Baca juga: Menelisik Background Pendidikan Ridwan Kamil, Berprestasi Dan Memotivasi

Layanan Mediamaz Scholar

Untuk teman-teman semua, mulai sekarang bangun dan berdiri untuk mencoba berinisiatif dalam mencari informasi yuk. Karena jika bukan diri kita sendiri siapa lagi. Sekarang ini, semuanya sudah sangat mudah berkat media informasi. Salah satu contohnya adalah Mediamaz Scholar yang menyajikan informasi beasiswa terkini untuk kamu yang bertekad seperti Busay untuk kuliah di luar negeri. Cek terus informasinya di website ini dan akun Instagram.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top