IISMA clara-clarissa

Study Exchange Ini Berhasil Membawa Clara Ke Spanyol, Simak Kisahnya!

Clara Clarissa, panggil saja Clara. Seorang wanita cantik pemilik akun instagram bernama @claraclrs_ yang berasal dari Bekasi, Indonesia. Clara adalah mahasiswa S1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada tahun 2021, ia memiliki kesempatan dalam meraih Study Exchange di Spanyol dari salah satu program Kemendikbud yaitu beasiswa IISMA. Yuk, simak baik-baik!

Awal Perjalanan Clara meraih Beasiswa IISMA Ke Spanyol

Clara adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di awal tahun ia berkuliah di daerah Jogja, Indonesia kurang lebih 6 bulan, namun ketika bulan Maret 2022 ada wabah atau virus yang menghadang Indonesia. Dan pada akhirnya ia terpaksa untuk pulang ke rumah untuk melanjutkan studinya dengan sistem Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ). Melanjutkan studi di daerah Jogja, ia mengambil program studi International programme of international relation (HI) pada Kelas Internasional. Di Universitasnya bagi mahasiswa yang mengambil program studi HI diwajibkan untuk mengikuti salah satu program Pertukaran Pelajar Internasional. Sebelumnya ia mengikuti exchange program di Korea, semester 3 pada bulan Agustus 2020 – Januari 2021.

Program Exchange

Saat itu ia mengikuti program exchange menggunakan biaya mandiri (Dari orang tua), akan tetapi untuk biaya tuition dibiayai oleh kampus. Pada waktu ia menduduki bangku kuliah di semester 2, ia merasakan sistem PJJ (kuliah di rumah). Dan saat ia menduduki perkuliahan di semester 3 ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk kuliah di Korea, dan pada saat semester 4 ia kembali ke negara asalnya (Indonesia). Dikarenakan kedua orang tuanya tidak memperbolehkan kembali ke Jogja karena kondisi wabah (Covid-19) yang sedang tinggi. Lalu kesempatan selanjutnya datang pada saat ia menduduki bangku kuliah di semester 5. Ia mendapatkan kesempatan mengikuti program IISMA ke Granada, Spanyol. Clara berhasil mendapatkan study exchange nya dan menjalani masa perkuliahan selama 3 bulan dari bulan September – Desember 2021. 

Untuk posisi kesibukannya pada saat kuliah, ia sibuk berorganisasi khususnya pada Semester 1 sampai dengan semester 3. Ketika exchange di Korea ia pun tetap menjalani kegiatan organisasinya. Pada saat itu, ia mengikuti 4 organisasi dan berhasil menjalankan ke-4 organisasinya dengan baik dan bertanggung jawab. Karena kegigihannya dalam berorganisasi ia dipercaya menjadi presiden IPIREL Community (Komunitas Mahasiswa International Programme of International Relation),lho!. Clara juga dipercaya menjadi koordinator bidang kemahasiswaan BEM Fisipol UMY langsung dibawah ketua BEM.

Persyaratan program IISMA batch 1

Untuk usaha yang ia jalani pada saat ingin mengikuti study exchange, ia mencari-cari informasinya berasal dari Universitas yang ia tempati, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Program Studi yang ia ikuti di UMY, juga memberikan kewajiban untuk mengikuti exchange. Jadi terkait info study exchange, ia mendapatkannya dari kampusnya. Pada waktu itu, ia juga diminta untuk memenuhi persyaratan yang ada. Jadi, untuk daftar program IISMA batch ke-1, tentunya berbeda dengan persyaratan batch ke-2. Untuk syarat pendaftaran program IISMA batch 1, seperti:

  1. Persyaratannya IPK
  2. Sertifikat English Proficiency Test (Antara TOEFL / IELTS / Duolingo English Test)
  3. Surat rekomendasi dari kantor urusan internasional kampus
  4. Menulis essay

Melengkapi Persyaratan IISMA Dengan Efektif

Karena berkas yang tidak terlalu sulit untuk dipenuhi, segala sesuatu persyaratannya bisa dipenuhi dengan cepat dan baik. Kondisi struggle yang dihadapinya pada saat itu, ketika ia sedang berusaha untuk melengkapi dokumen yaitu ketika ia melengkapi dokumen berupa sertifikat English Proficiency Test. Sebenarnya ia sudah mendapatkan sertifikat IELTS namun kebetulan sertifikat tersebut expired di Maret 2021, dan pada akhirnya, ia harus mengambil Duolingo English Test.

Sewaktu ia menghadapi Duolingo English Test ia merasa lebih mudah dan tidak sesusah IELTS dan TOEFL, jadi ia bisa memaksimalkan diri untuk mendapatkan nilai yang maksimal ketika memilih negara yang ditujunya. Pada saat ia menjadi peserta IISMA batch ke-1 ia diminta untuk memilih satu host university, dan ia memilih University of Granada (UGR). Karena subject yang ditawarkan adalah subject yang menarik untuknya. Pada waktu itu ia ingin sekali mendapatkan pendidikan perspektif islam dari Eropa, karena yang ia dapatkan selama ini hanya Islamic perspective dari Timur Tengah. Jadi ia merasa penasaran untuk mengetahui Islamic perspective dari Eropa seperti apa? Maka dari itu ia memilih Granada. Ketika ia memilih Granada, banyak fasilitas lainnya ketika memilih Granada karena ia tidak hanya belajar akademik. Tetapi  juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai trip ke Andalusia.

Belajar Bahasa ala Clara untuk Program IISMA

Terkait pembelajaran bahasanya, ia sudah menjadi awardee, setelah itu ia langsung belajar bahasa Spanyol melalui aplikasi belajar bahasa asing di handphone, seperti Duolingo. Jadi ia sudah mempersiapkan juga untuk ke Spanyol, karena pada saat ia ke Korea, ia benar-benar tidak ada persiapan yang cukup. Ia hanya belajar Hangul (huruf Korea) dan daily conversation karena pada saat dirinya exchange ke Korea. Kebetulan Korea bukan negara pilihannya, jadi ia tidak terlalu mempersiapkannya.

Ketika ia merasakan keberhasilan yang ia capai, ia merasakan perasaan yang sangat deg-degan karena di batch IISMA ke-1, jarak antara tahapan seleksi, interview, dan pengumuman cukup dekat. Apalagi untuk pengumuman tahap final yang sempat mengalami pengunduran waktu. Setelah dinyatakan lolos pada tahap pengumuman final, pada saat itu, ia langsung mengurus dokumen-dokumen untuk keberangkatan, seperti visa, tiket pesawat, penginapan di sana, dan sebagainya.

Kehidupan Clara di Spanyol

Ketika ia di Spanyol, ia mengalami struggle yang luar biasa, karena mungkin terkait bahasa yang saat itu level bahasanya adalah beginner, jadi cukup sulit untuk berkomunikasi dengan orang Spanyol yang lebih memprioritaskan penggunaan bahasa Spanyol. Sehingga harus dapat berkomunikasi dengan baik dan menggunakan fitur translate ketika berdiskusi. dalam program IISMA ini. Bahkan ia juga mendapatkan tantangan untuk membuat challenge dalam acara Indonesian day. Menurutnya, “Jadi karena saat itu bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, kita disuruh memperkenalkan kebudayaan Indonesia.

Nah, pada saat itu di IISMA Granada kami membuat seperti performance. Ada presentasi tentang Indonesia, ada drama Malin Kundang (waktu itu saya juga menjadi salah satu pemerannya). Ada nyanyi lagu Indonesia dan daerah, dan ditutup dengan para peserta bisa mencoba masakan Indonesia. Disitu juga saya sebagai ketua dari grup tersebut (IISMA Granada) merancang untuk acara itu dibuat menjadi seperti kepanitiaan organisasi dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar”. Bagi  teman-teman yang ingin melihat hasilnya seperti apa bisa dilihat di akun media sosial IISMA Granada di Instagram @iismagranada  karena di akun media sosial ini,  ada after movie dari acara tersebut.

Aktivitas Positif ala Clara

Untuk aktivitas sehari-hari yang ia kerjakan selama di Spanyol, kurang lebih kuliahnya, ia mengikuti trip,  juga ia sempat mengikuti volunteer untuk mengajar bahasa Inggris pada anak-anak SD dan SMP, dan ia juga pernah ikut volunteer untuk mengajar bahasa Inggris pada lansia. Jadi uniknya di Spanyol itu para lansia masih semangat untuk travelling. Mereka belajar bahasa Inggris karena berniat untuk travelling ke negara lain. Pada saat mengajar lansia, ia juga memperkenalkan Indonesia ke mereka. Acara yang ia buat dan program volunteer yang diikutinya membuat orang-orang Spanyol merasa bahwa Indonesia adalah negara yang menarik untuk dikunjungi. Jadi, selama ia menghadapi kehidupannya di Spanyol bukan hanya sekedar belajar, tapi juga menjadi duta dari Indonesia.

Motivasi Kuat, Modal Clara Untuk Mendapatkan Beasiswa IISMA

Ketertarikan yang ia punya, saat ingin berkuliah di luar negeri sudah ada sejak SMP. Pada saat itu ia bersekolah di salah satu sekolah semi internasional dimana para pengajarnya itu adalah guru-guru dari luar negeri. Ketika ia membandingkan kualitas pendidikan ia berpikir bahwa waktu pendidikan SD dan SMP sangat jauh, dan ketika ia SMP, banyak sekali perspektif dan ilmu yang  sekiranya tidak pernah didapatkan. Jadi ia  semakin ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang bagaimana perspektif dari negara lain dalam hal pendidikan dan membuatnya sangat termotivasi untuk kuliah di luar negeri.

Ketika dirinya lulus SMA, ia mulai berusaha untuk mencari beasiswa. Waktu itu sempat ingin  kuliah di Italia dengan beasiswa, tapi waktu di akhir tahap wawancara ia belum berhasil mendapatkannya. Akhirnya memutuskan untuk mencari universitas yang dapat memfasilitasinya untuk mendapatkan international exposure. Sebelumnya pada saat itu ia memilih UMY dengan kualitas HI-nya yang sangat baik, akreditasi unggul, dan ia benar-benar difasilitasi untuk dapat belajar di luar negeri, bahkan setiap semesternya ia mendapatkan public lecture atau kuliah dari dosen luar negeri. Jadi, perspektifnya  mengenai ilmu, khususnya di HI semakin beragam dan banyak hal baru, serta membuatnya sebagai mahasiswa HI menjadi lebih open-minded.

Akhir dari Perjalanan ‘Spanyol’

Ketika dirinya merasakan student exchange 2 kali, ia merasa kuliah di luar negeri tidak hanya mengejar akademis, tapi juga mencari non-akademik. Dirinya tidak hanya belajar teori, tapi juga secara praktik. Ia juga belajar menjadi orang yang lebih dewasa, organize diri sendiri. Karena yang namanya jauh dari rumah, jadi dipaksa untuk menjadi seseorang yang mandiri dan berpikir kreatif untuk diri sendiri. Menurutnya, “Banyak tantangan yang saya hadapi, seperti misalnya kalo di luar negeri susah untuk beribadah (karena saya adalah seorang Muslim). Jadi ya saya harus bisa menjalankan segala kewajiban saya di tengah challenge yang ada. Jadi, kuliah di luar negeri benar-benar dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pada saat ada pembukaan IISMA, saya benar-benar tertarik dan ingin join, apalagi IISMA memberikan beasiswa fully funded untuk para mahasiswa yang terpilih untuk exchange ke negara yang kami pilih”.

Motivasi dari Clara

Dari pengalaman yang sudah ia ceritakan, ia berharap teman-teman bisa lebih semangat dan giat lagi mencari informasi terkait beasiswa dan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi persyaratannya. Karena lagi-lagi kuliah di luar negeri bukan cuma masalah akademis, tapi juga masalah kehidupan non-akademis yang akan membuat perspektif menjadi berbeda.

Baginya, setiap orang bisa menjadi orang yang jauh lebih dewasa dan memiliki kreativitas yang berbeda. Dan seandainya teman-teman masih stuck di zona nyaman, kapan mau berusaha menjadi orang yang lebih maju dan kreatif? Zaman sekarang ini, akses informasi gampang banget untuk ditemui, jadi rajin-rajinlah menggunakan sosial media dengan baik. Menurutnya, “Jadikan teman-teman yang pernah berkuliah di luar negeri sebagai motivasi atau bahkan ajak mereka untuk berdialog. Cari tau gimana caranya supaya bisa mendapatkan beasiswa. Karena ya lagi-lagi jaman sekarang kesempatan banyak sekali, jadi teman-teman harus lebih aware lagi dengan informasi yang ada”.

3

Untuk teman-teman semua, mulai sekarang bangun dan berdiri untuk mencoba berinisiatif dalam mencari informasi yuk. Karena jika bukan diri kita sendiri siapa lagi. Sekarang ini, semuanya sudah sangat mudah berkat media informasi. Salah satu contohnya adalah Mediamaz Scholar yang menyajikan informasi beasiswa terkini untuk kamu yang bertekad seperti kuliah di luar negeri. Kamu juga bisa mengembangkan profil kamu menjadi wadah cerita perjalanan beasiswa kamu yang sudah kamu capai, kamu juga bisa bertanya-tanya tentang beasiswa, terutama Pertukaran Pelajar Internasional atau IISMA melalui akun sosial medianya Clara Clarissa @claraclrs_, kamu juga bisa Cek terus informasinya di website ini dan akun Instagram @mediamazscholar.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top