Pahlawan wanita indonesia -berjilbab-syar'i

Menguak Siapa Sebenarnya Pahlawan Wanita Berjilbab Syar’i?

Halo Sobat Meddy! Kali ini Meddy akan membahas tentang sosok emansipasi wanita berjilbab syar’i atau wanita hebat ini mempunyai nama lengkap Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah. Nah, apakah nama tersebut cukup asing untuk Sobat Meddy dan kamu tertarik untuk mengetahui siapa pahlawan wanita indonesia yang satu ini, simak kisah ini ya!

Menelisik Sedikit Profil Sosok Pahlawan Wanita Indonesia, Rahmah

Pahlawan Wanita Indonesia

Sobat Meddy, pahlawan wanita berjilbab syar’i ini atau Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah merupakan seorang pahlawan perempuan yang mengorbankan jasanya untuk pendidikan. Rahmah El Yunusiyyah adalah sosok perempuan pertama yang mendirikan Diniyah Putri. Sosok ini lahir di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, 29 Desember 1900. Ia lahir dari pasangan Muhammad Yunus al-Khalidiyah dan Rafia. Ia lima bersaudara Zainuddin Labay, Mariah, Muhammad Rasyad, Rihanah, dan anak terakhir, Rahmah. Rahmah sudah menjadi yatim sejak umur 6 tahun. Sedangkan yang mengajari Rahma belajar adalah kakaknya yang bersekolah di sekolah dasar mengajarkan Rahmah baca tulis Arab dan latin. Dari sini kemampuan Rahmah berkembang dan terus meningkatkan kemampuan bacanya terhadap buku-buku yang ditulis kakaknya, Zainuddin Labay.

Baca Juga : 4 Artis Wanita Indonesia Lulusan Universitas Luar Negeri

Tumbuh Tanpa Figur Ayah, Mempengaruhi Kepribadian Rahmah Menjadi Pahlawan Wanita Indonesia

Sebelum ia menjadi sosok emansipasi wanita yang menginspirasi, Rahmah tidak memiliki figur seorang ayah. Ia tumbuh menjadi sosok wanita yang pemalu yang tidak banyak bergaul dengan teman sebayanya. Rahmah dinikahkan pada usia 16 tahun dengan seorang ulama dari Sumpur, Bahauddin Latif yang berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak.

Saat itu, Rahmah bersekolah di sekolah Diniyah yang pendirinya adalah kakaknya, memang keluarga ini adalah keluarga cendekiawan islamiyah. Pendiri sekolah tersebut adalah Zainuddin Labay El Yunusy. Ia diterima di bangku kelas tiga yang saat ini setara dengan Tsanawiyah (SMP). Pada zamannya, Pendidikan tradisional tersebut berbasis surau pun mulai mengalami kemajuan. Hal ini disebabkan banyaknya ulama yang belajar di Timur Tengah yang membawa pembaharuan pada awal abad ke-20.

Lebih lanjut, Sekolah yang didirikan oleh Zainuddin Labay El Yunusy adalah sekolah agama Islam Diniyah School yang berbasis Modern. Zainuddin Labay El Yunusy menyesuaikan program sekolah Diniyah ini menjadi sekolah yang seimbang. Maksudnya Diniyah school memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum sekolah menggunakan alat peraga dan memiliki perpustakaan. Terdapat hal baru yang dilakukan oleh Zainuddin Labay El Yunusy pada sekolahnya. Yaitu di dalam kelas terdapat perempuan dan laki-laki.

Awal Mula Terbangunnya Pendidikan Buatan Pahlawan Wanita Indonesia

emansipasi wanita jembatan-besi

Nampaknya, berada Suatu ruangan kelas dengan laki-laki nampaknya tidak nyaman bagi Rahmah. Menurutnya, sekelas dengan laki-laki membuat perempuan terbatas mengutarakan haknya, seperti halnya masalah perempuan dalam sudut pandang fiqh tidak dijelaskan secara rinci oleh gurunya yang merupakan seorang laki-laki, begitupun dengan siswa perempuan yang tentu enggan untuk bertanya. Sehingga Rahmah memimpin kegiatan belajar bersama di luar kelas pada sore hari, tanpa meninggalkan kewajibannya di sekolah Diniyah pada pagi hari. maka untuk lebih memperdalam dan mempersiapkan jawaban atas keresahan sendiri, Rahmah mempelajari Fiqih secara mendalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi bersama dua rekannya Siti Nasiah dan Djawana Basyir.

Baca Juga: Intip Beasiswa Internasional Khusus Wanita, Catat Persyaratannya.

Usaha Rahmah untuk Mempelajari Ilmu Fiqih

Mempelajari ilmu fiqih di zaman itu bisa dibilang sulit. Keterbatasan buku atau sumber-sumber yang memaksa Rahmah untuk mencari juru sumber yang dianggapbisa memberinya ilmu fiqih yang cukup. Karena, untuk mempersiapkan jawaban dari pertanyaan yang sudah dipendam para perempuan-perempuan membutuhkan ilmu cukup. Sehingga harapannya ia bisa mengajari perempuan dengan mudah. Rintangan dan tantangan Rahmah menjadi orang pertama yang memuka sekolah khusus perempuan tidaklah mudah. Banyak sudut mata yang menganggap Rahmah hanyalah buang-buang waktu dan tenaga. Anggapan yang menganggap bahwa kodrat wanita hanyalah didapur ini tidak meluruhkan semangat Rahmah untuk terus berjuang, lho! Tidak heran ia dijuluki sebagai emansipasi wanita bagi perempuan-perempuan di Padang.

Kelahiran Diniyah School untuk Perempuan dan Sepak Terjang Kontribusi Rahmah Dalam Dunia Pendidikan 

Selanjutnya, Tepat 1 November 1923, Madrasah Diniyah Li al-Banat dibuka oleh Rahmah sebagai bagian dari Diniyah School yang utama, namun dikhususkan untuk murid-murid putri. Adapun kegiatan Madrasah Diniyah Li Al-Banat ini Kegiatan belajarnya hanya berlangsung selama 2,5 jam yang memfokuskan pada pelajaran dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Madrasah Diniyah Li al-Banat terus mengalami kemajuan sehingga lambat laun, sekolah yang didirikan kakaknya Zainuddin Labay El Yunusy peralatan yang daftar hanya laki-laki.

Metode Belajar yang digunakan

Fakta menariknya, metode belajar yang digunakan dalam belajar adalah murid mengelilingi guru. Kemudian guru membacakan buku berbahasa Arab menerangkan dengan bahasa Indonesia. Sepak terjangnya di dunia pendidikan pun tak lagi diragukan. Sosok yang dianggap emansipasi wanita ini membeli rumah tingkat di pasar usung untuk kegiatan belajar dengan usahanya sendiri. Tak Hanya sampai disitu, Ia pun memberantas buta huruf pada ibu-ibu yang lebih tua.

Baca Juga: Ini Deadlinenya! Bisa Terbang Ke USA Dengan Beasiswa Kotzen, Simmons University

emansipasi wanita madrasah

Terakhir di sumber dikatakan, Pada 1947 untuk menyesuaikan pembagian jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, Diniyah Putri dibagi ke dalam Diniyah Rendah dan Diniyah Menengah Pertama. Diniyah rendah setara SD dengan lama pendidikan 6-7 tahun, sedangkan Diniyah Menengah Pertama setara SLTP dengan lama pendidikan berdasarkan peruntukannya. Diniyah Madrasah Putri-B dengan lama pendidikan empat tahun diperuntukkan bagi lulusan SD dan Diniyah Madrasah Putri C dengan lama pendidikan dua tahun diperuntukkan bagi tamatan SLTP yang tidak sempat mendalami agama dan bahasa Arab pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Nah demikian informasi mengenai siapa sosok pahlawan wanita berjilbab syar’i tersebut, sepak terjang dan dedikasinya perlu menjadi apresiasi dan teladan. Semoga setelah membaca artikel ini, Sobat Meddy dapat termotivasi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Mediamaz Scholar

Apa yang Bisa Meddy Bantu?

Bagi Sobat Meddy yang tertarik untuk bisa lebih mengembangkan kemampuan diri, penguasaan bahasa atau konsultasi khusus tentang pendidikan lanjutan yang bisa menunjang keberhasilan Sobat Meddy, tentu Meddy senantiasa bisa membantu kamu di layanan Mediamaz Scholar. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi website resmi Mediamaz Scholar. Terima kasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top